Citra Diri Melalui Pemikiran Ki Hadjar Dewantara: Lalu dan Kini


Sumber: Dokumen pribadi

Refleksi, berkaca, bercermin, melihat ke dalam diri atau kontemplasi, entah disadari atau tidak, kenyataannya menjadi kompetensi esensial yang mesti dimiliki oleh seorang guru. Meski ini terlihat telah sering dibicarakan atau dilakukan, melalui beberapa program termasuk PGP saya lebih menyadari bahwa kompetensi refleksi ternyata membutuhkan upaya luar biasa. Untuk bercermin kita membutuhkan kaca yang mampu memantulkan citra diri kita secara jelas, mata yang terbuka melihat kebenaran, dan bahkan kita membutuhkan orang lain untuk membantu kita melihat punggung kita, sesuatu yang sulit kita amati sendiri. Tanpa ilmu pengetahuan yang cukup, maka refleksi kita pun akan dangkal, tanpa jiwa yang besar kita akan enggan mengakui kekurangan atau kelemahan, dan tanpa pandangan orang lain kita tidak akan menghasilkan pandangan yang luas, sebab pandangan kita itu terbatas.

Sumber: https://id.theasianparent.com/

Bagi guru, KHD tentu bukan sosok asing, pemikiran-pemikirannya yang begitu mendobrak di zamannya masih tetap releven digunakan dan coba diimplementasikan hingga sekarang. Dalam kurikulum terbaru pun pemikiran Ki Hadjar Dewantara semakin dikuatkan. Mulanya, saya bertanya-tanya, mengapa sosok KHD mendapat perhatian begitu besar? Dua pekan ini, melalui PGP saya didorong untuk mengenal lebih jauh siapa beliau dan bagaimana sepak terjangnya.

                                                              Sumber: http://immfkip.ums.ac.id/

Di tengah banyaknya pemikiran pragmatis, di awal modul KHD langsung menghilangkan sangwasangka saya. Beliau berkata bahwa setiap anak itu lahir dengan potensi bawaan, tugas guru bukan mencorat-coret kertas kosong sebagaimana pemikiran Jhon Luck dalam Tabularasanya. Tugas guru adalah menebalkan laku anak, membimbingnya pada yang benar. Anak lahir dengan fitroh masing-masing, semua itu bersifat kodrati. Alangkah religiusnya KHD, ini pun mengawali, bahwa laku pendidikan sudah seharusnya menginduk dan tunduk pada hukum Sang Pencipta manusia itu sendiri.

Pandangan KHD mengenai peran krusial keluarga sebagai lembaga pendidikan, bagi saya sendiri semakin memberi lecutan agar tetap berusaha seoptimal mungkin membersamai tumbuh kembang anak walau di sisi lain saya harus bekerja. Dari sini, saya jadi terpikir sebuah ide tentang paguyuban orang tua di sekolah. Di mana ada sebuah pertemuan rutin yang memungkin semua orang tua saling berbagi ilmu dalam mendidik anak. Saya yakin, tumbuhnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan anak di rumah akan memberi dampak besar pagi keberhasilan sekolah.

Sumber: https://www.dreamstime.com/

Pandangan KHD lainnyan yang kemudian mentransformasi cara berpikir saya adalah mengenai kodrat alam dan kodrat zaman, sebenarnya ini bukan pandangan baru, namun setelah menyelami pemaknaan KHD pada kedua hal tersebut, membawa saya pada insight baru tentang bagaimana mengembangkan kekuatan konteks sosial budaya di daerah saya. Selama ini saya baru mengambil beberapa lokal wisdom yang masih relevan seperti dolanan bocah yang kaya numerasi untuk pembelajaran Matematika, ragam motif batik, atau alam dan kondisi sosial di mana saya mengajar. Saya menahan diri untuk mengajarkan anak pada mitos-mitos Jawa yang saya anggap kurang pas. Setelah saya telaah, justru saya harus mengangkatnya, namun dengan memadukan kemajuan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, di Jawa kamar bayi yang baru lahir diberi “1000 tombak”, sebuah julukan untuk menyebut sapu lidi yang ujung-ujungnya ditusuk bawang merah dan bawah putih. Konon, benda tersebut berfungsi sebagai tolak bala. Kedepan, InsyaAllah saya akan coba angkat itu, namun dengan menambahkan penjelasan ilmiah bahwa bawang memang memiliki senyawa antibakteri bernama allicin yang mudah menguap. Sehingga ketika bawang itu ditusuk dan diletakkan pada kamar bayi, senyawa tersebut akan menguar dan mereduksi pertumbuhan bakteri di ruangan tersebut.

Melalui pengenalan mitos-mitos Jawa tersebut, saya ingin mengajak anak-anak untuk tidak underestimate terlebih dahulu pada pemikiran-pemikiran nenek moyang yang dianggap tidak logis. Namun, penting untuk kita hargai dan kita gali lebih dalam apa yang sebenarnya ingin disampaikan nenek moyang kita. Bagaimana pun “ilmu titin” orang Jawa tidak dibuat dalam waktu singkat, namun melalui proses pemikiran panjang mengenai gejala-gejala alam yang mereka alami. Akan tetapi, minimnya teknologi pengetahuan pada saat itu membuat teori yang mereka ungkapkan absen dari penjelasan ilmiah.

Sumber: https://deskjabar.pikiran-rakyat.com/

Ada satu pemikiran KHD yang kali pertama saya baca di Instagram dan kemudian salah tafsir “Menghamba pada Murid”. Pada saat ruang kolaborasi bersama instruksi hal itu sempat di singgung, dipaparkan pula bahwa diksi itu diambil dari latar belakang pengalaman KHD bersama Asti(Anak Berkebutuhan Khusus), ini tidak lain adalah ungkapan KHD yang terdalam bahwa pengajaran dan pendidikan yang kita berikan haruslah berpihak pada anak. Belum cukup sampai di sana, saya kemudian mencari makna “menghamba” di KBBI online. Ternyata menghamba lebih dekat artinya dengan mengabdi, hamba adalah abdi. Selama ini saya berpikiran bahwa hamba adalah hubungan yang hanya dikhususkan antara Sang Pencipta dan makhluknya, namun ternyata saya salah. Menghamba tidak sama artinya dengan “menyembah”. Saya berdoa untuk diri saya dan guru-guru seluruh Indonesia, semoga kita dianugrahi Allah keikhlasan mendidik seperti KHD sehingga kita mampu secara konsisten merancang pengajaran dan pendidikan yang berpihak pada murid. Aisyah Senja Mustika(CGP Angkatan 7)

 

Posting Komentar

0 Komentar